Tampilkan postingan dengan label KEAJAIBAN LEBAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KEAJAIBAN LEBAH. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 Juni 2008

KILAS KAWAT DUNIA

Madu obat yang menyembuhkan bagi manusia (QS: An-Nahl: 69) Untuk pemesanan madu habbatussauda murni asli mesir no:1 Hub Bin Muhsin HP: 085227044550 / 021-91913103 email: binmuhsin_group@yahoo.co.id

===

Sacramento - Jutaan lebah madu beterbangan karena terganggu. Polisi Kepala Patroli Jalan Tol California Michael Bradley, Minggu (16/3) di Sacramento, mengatakan, sebanyak 8-12 juta lebah terganggu. Sebuah truk berukuran besar sedang membawa lebah dengan kandang-kandang lebah, yang masing-masing berisi 30.000 lebah. Saat memasuki jalan bebas hambatan California, dalam perjalanan menuju Yakima, Washington, truk itu tergelincir dan terguling. Muatannya berupa lebah pun terlepas dari sarangnya di Highway 99, nama salah satu ruas jalan tol itu. Masalah tidak selesai sampai di situ. Ketika mencoba melakukan pertolongan, para petugas terganggu karena langsung diserang lebah dengan sengatnya yang menyebabkan rasa sakit luar biasa. Lebah itu seyogianya hendak dimanfaatkan untuk membantu penyerbukan di lahan-lahan pertanian di San Joaquin Valley, tetapi justru menggigiti sopir truk dan siapa saja yang melewati sekitar lokasi kecelakaan itu.

Santiago - Cile adalah negara yang terkenal dengan lorong-lorog bawah tanah karena usaha pertambangan. Namun, polisi di negara itu pada 13 Maret diberitakan menemukan sebuah terowongan lengkap dengan ventilasi di dekat penjara di kawasan Santiago, ibu kota Cile. Lorong bawah tanah sepanjang 85 meter itu mirip usaha pertambangan, dibangun dengan semen dan bahan kayu, serta memiliki aliran listrik. Polisi mengatakan, istri dari dua narapidana yang ditahan di penjara Colina II telah menyewa empat pekerja tambang untuk membangun terowongan tersebut. Tujuannya, untuk menjadikan terowongan itu sebagai jalur pelarian napi dari penjara Colina II. Terowongan itu belum selesai dibangun dan belum sampai menembus ruangan di penjara itu. ”Jika terowongan itu sudah tersambungkan dengan penjara, sekitar 200 napi bisa melarikan diri,” kata Felipe Harboe, pejabat tinggi dari Departemen Dalam Negeri Cile. Perihal terowongan itu, baru diketahui saat polisi menyadap percakapan telepon napi. Penyadapan diakukan untuk mencegat pembicaraan soal peredaran narkoba di negara itu yang melibatkan napi. ”Ide soal terowongan itu sangat mencengangkan. Saya belum pernah mendengar cerita pembangunan terowongan seperti itu dalam sejarah kepolisian,” kata Rene Castellon, salah satu direktur di jajaran kepolisian Cile. Ukuran terowongan itu cukup besar karena orang dewasa bisa berdiri leluasa. (REUTERS/AP/AFP/MON)

sumber:

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/03/18/0030194


Madu obat yang menyembuhkan bagi manusia (QS: An-Nahl: 69) Untuk pemesanan madu habbatussauda murni asli mesir no:1 Hub Bin Muhsin HP: 085227044550 / 021-91913103 email: binmuhsin_group@yahoo.co.id

Poliandri Turunkan Penari-penari Handal

GUNAKANLAH HANYA MADU HABBATUSSAUDA KARENA DI DALAMNYA MENGANDUNG MANFAAT MADU DAN HABBATUSSAUDA. AMIN.

Madu obat yang menyembuhkan bagi manusia (QS: An-Nahl: 69) Untuk pemesanan madu habbatussauda murni asli mesir no:1 Hub Bin Muhsin HP: 085227044550 / 021-91913103 email: binmuhsin_group@yahoo.co.id

===

NEW YORK, SELASA - Perkawinan ratu lebah dengan banyak pejantan atau poliandri memberi manfaat besar bagi koloninya. Sebab, hal tersebut dapat meningkatkan kualitas koloninya karena menghasilkan keturunan yang handal menari. Kualitas tarian seekor lebah menentukan kemampuannya mencari sumber makanan dan memilih lokasi sarang yang tepat.

Poliandri merupakan kebiasaan yang umum dilakukan ratu lebah dalam koloninya. Ratu-ratu lebah madu yang hidup di Amerika Utara rata-rata kawin dengan 20 pejantan dalam sarangnya, bahkan lebah madu besar di Asia sampai kawin dengan 104 pasangan dalam siklus hidupnya.

Tentu bukan karena alasan ratu lebah punya nafsu seksual yang terlampau tinggi. Meskipun secara biologis ratu lebah kenyataannya memang memiliki kehidupan seks yang hebat, para peneliti penasaran dengan alasan sebenarnya.

Untuk mempelajari manfaat poliandri di koloni lebah, Heather Mattila, peneliti lebah dari Universitas Cornell, New York, AS, membandingkan ratu lebah yang hanya hidup dengan satu pejantan dan ratu lebah yang hidup dengan 15 pejantan di sarangnya. Masing-masing kelompok diambil sampel tiga ekor ratu lebah.

Hasil pengematan menunjukkan, lebah yang kawin dengan banyak pejantan menghasilkan keturnan-keturunan lebah pekerja yang lebih lihai dan lama menari. Padahal, semakin bagus tariannya, semakin besar kesempatan koloni lebah memeroleh sumber makanan.

Ini artinya, koloni yang memiliki individu-induvidu yang keragaman genetiknya tinggi memiliki kemampuan berburu lebih baik. Lebah-lebah pekerja menari dengan pola tertentu untuk menunjukkan di mana sumber makanan hingga lokasi yang baik untuk bersarang.

"Apa yang sungguh mengejutkan kami adalah perbedaan yang besar," ujar Mattila. Bahkan, dalam rekaman video, keturunan lebah dari pasangan tunggal hanya diam di atas sarangnya sementara keturunan lebah hasil polindri sudah bergerak mencari makan.

Penelitian sebelumnya menunjukkan adanya keragaman genetika pada setiap individu juga baik bagi koloni lebah karena menekan risiko penyebaran penyakit. Meski demikian, perilaku kawin dengan banyak pejantan hanya dilakukan lebah madu dan jarang ditemukan pada lebah lainnya, tawon, maupun semut.

"Lebah madu tidak biasa dalam artian cenderung memiliki populasi yang sangat besar dan bentuk komunikasi yang kompleks di antara pasangan kawin, dan bisa jadi begini, begitu Anda mencapai level kompleksitas tertentu, keragaman genetika membantu meningkatkan produktivitas yang dibutuhkan," demikian simpulan Mattila dalam Proceedings of Royal Society B. (LIVESCIENCE/WAH)


WAH
Sumber : LIVESCIENCE

SUMBER:

http://www.kompas.com/read/xml/2008/01/22/19243423


Madu obat yang menyembuhkan bagi manusia (QS: An-Nahl: 69) Untuk pemesanan madu habbatussauda murni asli mesir no:1 Hub Bin Muhsin HP: 085227044550 / 021-91913103 email: binmuhsin_group@yahoo.co.id

Madu obat yang menyembuhkan bagi manusia (QS: An-Nahl: 69) Untuk pemesanan madu habbatussauda murni asli mesir no:1 Hub Bin Muhsin HP: 085227044550 / 021-91913103 email: binmuhsin_group@yahoo.co.id

PAKAILAH HANYA MADU HABBATUSSAUDA MURNI KARENA DI DALAMNYA MENGANDUNG MANFAAT HABBATUSSAUDA.

C Wahyu Haryo PS

Madu hutan menjadi bagian dari kehidupan penduduk suku Melayu yang berdiam di Danau Sentarum, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, sejak lama. Mereka mengambil madu dari sarang lebah yang ada di pohon tempurau dan rengas setinggi 20-40 meter, di kawasan hutan Taman Nasional Danau Sentarum yang luasnya 132.000 hektar.

Pohon bersarang lebah itu oleh penduduk setempat disebut lalau, sedangkan orang yang memanjat pohon untuk mengambil madu disebut penait.

Ironisnya, cara pencarian madu alam seperti ini tak banyak lagi dilakukan warga karena mereka tak menguasai timang lalau (pembacaan mantra) untuk panen lebah.

Maka, Abdullah, lelaki yang tinggal di Desa Semalah, Kecamatan Selimbau, Kabupaten Kapuas Hulu, menjadi satu-satunya warga suku Melayu yang masih setia menggeluti pekerjaan sebagai penait lalau. Warga memanggilnya Pak Anjang.

”Orang yang berani memanjat pohon tinggi memang banyak. Tetapi, orang yang berani memanjat pohon tinggi untuk mengambil madu di lalau dan bisa menimang lalau hanya Pak Anjang,” ucap warga setempat.

Hanya orang bernyali kuat yang berani menjadi penait lalau sebab sarang lebah yang dipanen bukan satu-dua buah, melainkan dalam satu lalau ada 20-30 sarang lebah madu.

Setiap sarang dihuni lebih dari 10.000 lebah. Saat mengambil madu dari sarang, penait lalau harus berani berhadapan dengan ribuan lebah yang siap menyengat. Untuk meminimalkan amukan lebah, Abdullah memanen madu pada saat hari gelap, dari malam hingga subuh. Adapun untuk proses kelancaran pemanenan, ia lebih dulu melakukan tradisi menimang atau melantunkan mantra.

Menghormati alam

Tradisi pembacaan mantra ini berkaitan dengan kepercayaan adanya roh atau kekuatan tak tampak yang senantiasa menjaga alam. Mereka juga menganggap ada yang menjaga lalau. Maka, saat hendak mengambil madu sebagai bagian dari hasil alam, mereka perlu izin kepada roh penjaganya.

”Seorang penait lalau harus bisa menimang, meminta izin kepada alam sebelum mengambil madu,” kata Pak Anjang.

Proses menait lalau melewati beberapa tahapan, tiap tahapan harus didahului dengan menimang. Syair yang dibawakan saat menimang juga berbeda-beda.

Begitu melihat sarang lebah, penait kembali menimang. Misalnya tak ada angin, maka penait menimang meminta angin agar lebah yang diasapi bisa menjauh terbawa angin. Kalau terang bulan purnama, penait menimang untuk meminta awan gelap menutupi rembulan. Dari pengalaman mereka, lebah menjadi agresif jika ada cahaya.

Saat memanen pertama, penait juga menimang sebagai wujud syukur atas madu yang diberikan alam. Itu dilakukan sambil membuang beberapa potong sarang lebah berisi madu ke semua penjuru mata angin.

”Membuang sebagian madu yang dipanen maknanya berbagi dengan roh penjaga sungai dan hutan,” katanya.

Madu lalu dimasukkan dalam ember yang diikat dengan tali. Tali diulur ke bawah, seperti orang menurunkan ember saat menimba air. Saat mengulur tali, penait menimang lagi agar tali tak putus atau menyangkut di dahan.

Saat menait lalau, Pak Anjang biasa dibantu Aim (31), keponakannya. Aim berjaga di bawah pohon, menerima ember yang diulur Pak Anjang, dan mengumpulkan madu dalam ember yang lebih besar.

Dalam satu lalau bisa dipanen madu hingga 150 kilogram (kg), berharga jual Rp 25.000 per kg. Untuk memanen madu sebanyak itu, terkadang diperlukan waktu dua malam. Saat pulang pun, penait harus menimang, meminta izin pulang dan berterima kasih atas panen madunya.

Terjatuh

Pak Anjang belajar menait lalau dari ayahnya, Yusuf, sejak masa kecil. Ia selalu mendengar dan memerhatikan ayahnya menimang saat menait lalau. Lama-kelamaan ia hafal syair timangan lalau. Saat ayahnya meninggal, ia mewarisi empat lalau yang dimiliki nenek moyangnya turun-temurun.

Dalam menait lalau, warga setempat percaya bila salah timang, penait mengalami seperti halusinasi dan terjatuh dari lalau. Itu pernah dialami Pak Anjang tahun 1996. Saat itu ia jatuh dari ujung pohon rengas setinggi 40 meter tanpa menyangkut di dahan pohon. Namun, saat mendarat di tanah yang tergenang air setinggi 20 sentimeter, tubuhnya tak mengalami luka serius. Penait lalau juga harus bersiap disengat lebah. Bagi Pak Anjang, disengat lebah sudah menjadi hal biasa.

Seiring perjalanan waktu, warga menemukan cara baru membudidayakan lebah madu hutan. Mereka menggunakan selembar papan yang dijadikan dahan buatan dan diletakkan di pohon yang tingginya berkisar 3 meter. Warga menyebut papan tersebut dengan istilah tikung.

Madu pada tikung bisa dipanen siang hari karena koloni lebah yang hidup di pohon itu tidak sebanyak pada lalau. Dengan ditemukannya cara baru itu, warga menjadi enggan menait lalau. Mereka memilih membudidayakan lebah madu hutan di tikung.

Membudidayakan lebah madu hutan di tikung lebih praktis daripada menait lalau. Namun, bila tradisi menait lalau tak dilestarikan, Pak Anjang benar-benar menjadi penait lalau terakhir di kawasan habitat lebah madu hutan terbesar di Kalbar itu.

Syair ”Timang Lalau”

Saat hendak memanjat: Patah jarum patah penyait, anak munsang meniti akar. Asa bergetar betis aku nait, kami bujang baru belajar (Jarum patah jahitan juga patah, anak musang meniti akar. Perasaan bergetar betis ini waktu naik, kami pemuda sedang belajar).

Saat sampai di dahan pertama: Tempukung sikuta bangan, anak biak belajar nyumpit. Pakau ku tuntung dipampang dan, udah kuanjak daun bergerak, udah kuinjit ndak merikit. Payak lucak ulu tempunak, mengkam dalam ulu sekayam (Semut-semut berada di sarangnya, anak kecil belajar menyumpit. Tanggaku selesai di dahan pertama, sudah kuinjak tidak bergerak, sudah kuguncang tidak bersuara. Lumpur terletak di hulu Tempunak, tersimpan di dalam Hulu Sungai Sekayam).

Saat mulai mengasapi atau mengusir lebah: Bukan emas sembarang emas, emas datang sidari Jawa. Bukan tepas sembarang tepas, tabik ampun kita semua (Bukan emas sembarang emas, emas datang dari Jawa. Bukan usir sembarang usir, mohon ampun kepada penunggu lalu dan alam).

Saat meminta angin ribut: Ikan apa ikan tebirin, ikan tebirin si merah mulut. Lalu apa lalu dikirin, lalau dikirin si dandang ribut (Lalau di tanah tinggi yang mudah diterpa angin).

Saat meminta gelap: Karnibit mati bebilit, mati bebilit sekandung padi. Kelang kelip bintang di langit, minta limbun si muka ari (Rumput karnibit mati melilit, mati melilit di batang padi. Kerlap-kerlip bintang di langit, minta awan menutupi bulan purnama).

Saat pulang: Perang alu perang pelelat, perang dilengkung si kayu ara. Pulang ayu pulang semengat, pulang ke tempat kita semua (Perang alu perang di pelelat, di tikungan kayu beringin. Roh kembali ke badan kita, pulang ke tempat kita semua).


Madu obat yang menyembuhkan bagi manusia (QS: An-Nahl: 69) Untuk pemesanan madu habbatussauda murni asli mesir no:1 Hub Bin Muhsin HP: 085227044550 / 021-91913103 email: binmuhsin_group@yahoo.co.id

Sistem Tiris, Upaya Mempertahankan Mutu

Madu obat yang menyembuhkan bagi manusia (QS: An-Nahl: 69) Untuk pemesanan madu habbatussauda murni asli mesir no:1 Hub Bin Muhsin HP: 085227044550 / 021-91913103 email: binmuhsin_group@yahoo.co.id

KONSUMSILAH HANYA MADU HABBATUSSAUDA KARENA DI DALAMNYA MENGANDUNG KHASIAT MADU DAN HABBATUSSAUDA.

KHAERUL ANWAR

Seorang rekan bercerita, istrinya marah-marah karena ia pulang larut malam. Emosi sang istri segera mereda, tersenyum seketika, dan memeluknya dengan mesra saat mengetahui sang suami membawa sebotol madu asal Kabupaten Sumbawa, Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. ”Kalau istri sudah marah, dijamin madu sumbawa yang dibawa asli, bukan aspal (asli tapi palsu),” begitu kelakar kawan tadi.

Itu memang joke, yang sekaligus menggambarkan persepsi dan apresiasi banyak kalangan tentang madu asal kabupaten itu. Apalagi ada mitos, konon, minum air madu alam sumbawa yang dicampur kuning telur bisa menambah keperkasaan seorang lelaki.

Benar atau kelirukah khasiat madu sumbawa, entahlah. Yang jelas madu yang dipanen dari kawasan hutan itu, kata Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Sumbawa Ir Mukhlis MSi, punya trademark juga mendukung perekonomian rakyat lingkar hutan dari hasil hutan bukan kayu itu.

Hanya saja, air madu atau ai aneng sebagai sumber nafkah warga itu terusik oleh aktivitas penebangan liar, peladangan berpindah diikuti pembakaran semak belukar di awal musim tanam, dan izin penebangan yang dilegalkan pemerintah kabupaten itu.

Menurut Hamid, pengumpul madu alam, warga Desa Batu Tering, populasi boan atau pohon kayu besar tempat lebah bersarang dan beranak pinak di kawasan hutan Unter, Labakung, dan Saberak kian berkurang. Akibatnya, pemburu madu kesulitan mendapat hasil buruan.

Sekitar lima tahun lalu para pemburu bisa mendapat madu rata-rata 20 botol selama empat hari. Kini untuk mendapatkan madu dalam jumlah itu diperlukan waktu satu minggu. Namun, tidak jarang para pemburu pulang membawa madu hanya belasan botol.

Habitat

Ekosistem dan habitat hutan dewasa ini agaknya jauh berbeda dengan dua dekade silam. Pemanen tidak perlu menginap berhari-hari, cuma memasuki pinggiran hutan, obyek buruan sudah ada. Satu sarang lebah bisa menghasilkan 30 botol (ukuran 520 ml). ”Berangkat pagi hari, siang hari kita sudah pulang bawa madu,” ujar Hamid.

Kendati hasil buruan kini belasan botol, harganya amat berarti bagi pemburu. Hamid mengaku, tiap botol dijual Rp 20.000 pada penampung, yang kemudian menjual Rp 30.000 per botol setelah dikemas dalam botol dan diberi merek tertentu.

Degradasi lingkungan hutan berdampak pada para penampung yang tidak mampu memenuhi tingginya permintaan konsumen luar daerah. Misalnya, UD Madu Lestari di Sumbawa Besar hanya mampu menjawab kebutuhan madu bagi Kimia Farma, yang semula minta disuplai dua ton per bulan. Namun, jumlah itu disanggupi sekali dalam empat bulan, kata Ahmad Yani, Dekan Fakultas Pertanian Universitas Samawa, di Sumbawa Besar, Ibu Kota Kabupaten Sumbawa.

Tingginya permintaan madu di dalam negeri juga terlihat dari kebutuhan Indofood, yaitu 60 ton per tahun. Sementara itu, sejumlah agen di dalam negeri, seperti di Pulau Jawa, memerlukan 20 ton-40 ton madu per bulan. Sayang, pangsa pasar yang sudah tersedia itu belum bisa dipenuhi oleh produsen madu di Pulau Sumbawa umumnya.

Hal itu disebabkan, seperti terungkap dalam loka karya ”Membangun Usaha Hutan Rakyat” yang diselenggarakan Yayasan Masyarakat Nusa Tenggara (Samanta) di Sumbawa Besar, selain oleh kerusakan hutan, juga karena produk madu umumnya belum memenuhi standar kualitas, selain belum ada jaminan ketersediaan madu (kuantitas) sepanjang tahun.

Terlebih lagi masih ada kebiasaan para pemanen dan pengepul yang menjual habis madu di musim panen sehingga nyaris tidak tersedia stok di luar masa panen. Keterbatasan fasilitas angkutan dari Kabupaten Sumbawa adalah soal lain yang menyulitkan pengiriman madu kepada penampung di Pulau Jawa.

Penampung

Seperti dikatakan Ir Nuraini dari Jaringan Madu Hutan Sumbawa (JMHS), penampung di Sumbawa Besar, ia biasanya mengirim pesanan madu memakai jasa angkutan bus penumpang ke Surabaya dan Jakarta. Permintaan dari daerah lain seperti Bandung dan Bogor tidak pernah dipenuhi karena tidak ada bus yang mengambil jalur ke dua kota di Jawa Barat itu.

Walhasil, strategi yang ditempuh antara lain membuat kontrak penjualan dengan pembeli supaya pesanan bisa diterima pemesan dan efisiensi biaya transportasi. ”Ngirim lima botol madu ke Jakarta sama tarifnya dengan dua jeriken isi 10 liter,” ucapnya.

Belum tersedianya data konkret produksi madu sumbawa pun jadi persoalan. Berdasarkan pemantauan Ahmad Yani, dari penampung UD Madu Lestari, produksi madu 30 ton-40 ton selama masa panen (April-November), yang dihimpun dari 126 pemburu madu pada 11 sentra perburuan. Nuraini, dari JMHS, mengaku, selama masa panen berhasil menghimpun 30.300 liter madu dari 210 anggota JMHS.

Pangsa pasar madu sudah ada, potensi produksi pun tersedia. Kini terpulang pada pelaku di kabupaten seluas 6.643,98 kilometer persegi itu untuk menggarap madu, dari proses produksi hingga pemasaran untuk mengangkat taraf hidup rakyat di kabupaten berpenduduk 209.536 jiwa itu.

Masalah yang terungkap dari para pengepul dalam loka karya yang difasilitasi Yayasan Samanta bertema ”Membangun Usaha Madu Hutan Rakyat di Sumbawa Besar” itu adalah komitmen untuk menekan kerusakan hutan akibat perambahan kayu yang menjadikan tawon (Apis dorsata) kehilangan tempat bersarang.

Ini bisa diwujudkan dengan kebijakan yang berpihak kepada pemanen dan pengepul, seperti Pemerintah Kabupaten Sumbawa agar tidak membuat aturan-aturan dalam bentuk izin pemanfaatan kayu tanah milik (IPKTM), yang acapkali disalahgunakan oleh pemiliknya.

Tanpa IPKTM pun kawasan hutan kabupaten itu sudah terdegradasi. Catatan dinas kehutanan, dari luas total 514.000 hektar, 71.612 ha di antaranya dalam kondisi kritis. Untuk mengawasi kawasan seluas itu cuma diperkuat 18 personel polisi hutan.

Seraya lingkungan alam direhabilitasi, mutu dan kesinambungan produksi madu pun terus dilakukan. Seperti ditempuh JMHS, bukan dengan cara memeras sarang lebah, melainkan dengan sistem tiris. Sarangnya diiris melintang agar rongga terbuka, memudahkan air madu menetes ke dalam wadah yang disiapkan.

Wadah itu dilengkapi dengan saringan tiga tingkat guna memisahkan kotoran, sehingga yang diperoleh adalah air madu yang bersih dan higienis. Selain menggunakan sarung tangan, untuk menghindari fermentasi, juga digunakan wadah dan pisau untuk mengiris sarang yang antikarat.

Ditempuh juga sistem panen lestari, yaitu memanen sarang yang mengandung madu. Bila mengambil sarang yang tidak mengandung madu justru membunuh anakan tawon, padahal dua minggu kemudian sarang itu sudah memproduksi madu.

Ada pula yang menggunakan bahan nilon untuk menyaring air madu, yang umumnya dibawa pemanen ke hutan agar madu yang didapat segera dibersihkan dari kotoran yang melekat pada sarang.

Sistem tiris ini menggantikan cara tradisional, yaitu memeras sarang dengan tangan terbuka. Cara tradisional menjadikan anakan lebah ikut mati dan menimbulkan fermentasi pada air madu. Fermentasi juga bisa terjadi karena pisau pengiris berbahan besi yang mengandung boron.

Air madu sumbawa perlu diteliti secara ilmiah agar diketahui kandungan nutrisinya, yang bisa menjadi nilai plus membedakan dengan produk air madu daerah lain. Cita rasa, warna, dan kandungan nutrisi madu berbeda tiap daerah, tergantung dari sari bunga tanaman (lokal) yang diisap lebah sebagai bahan pakan.

Ai aneng sudah menjadi idiom, budaya hidup masyarakat, bahkan trademark, kekhasan, dan eksistensi Pemerintah Kabupaten Sumbawa sebagai penghasil madu di tingkat nasional. Hilangnya air madu, berarti juga menghilangkan kebudayaan daerah itu.

sumber:

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/03/01/02350525


Madu obat yang menyembuhkan bagi manusia (QS: An-Nahl: 69) Untuk pemesanan madu habbatussauda murni asli mesir no:1 Hub Bin Muhsin HP: 085227044550 / 021-91913103 email: binmuhsin_group@yahoo.co.id

Senin, 19 Mei 2008

Misi apakah yang diemban lebah…?

Misi apakah yang diemban lebah…?

Dalam sejarah umur bumi telah terjadi sejumlah pemusnahan makhluk-makhluk bumi dan sejumlah umat terdahulu. Hal ini tercatat dalam Alqur’an maupun bukti-bukti ilmiah dari berbagai temuan fosil bumi.

Di dalam Al Qur’an kita dapat belajar bagaimana kaum Nabi Nuh, kaum Nabi Luth dan Kaum nabi Sholeh dimusnahkan oleh Allah. Namun jauh sebelum bumi dihuni manusia, konon di bumi selama jutaan tahun dihuni makhluk lain dan yang terbukti secara ilmiah adalah dinosaurus dan sejenisnya.

Dari sejumlah fosil makhluk bumi purba, dinosaurus dan sejenisnya hidup dibumi selama jutaan tahun sebelum akhirnya dimusnahkan Allah pada jaman MesoZoic antara 64-66 juta tahun lalu atau sekitar 65 juta tahun lalu.

Dibandingkan pemusnahan dinosaurus, pemusnahan yang menimpa kaum Nabi Nuh sebenarnya ‘relative baru’ atau secara kasar mungkin hanya sekitar 100 000 tahun lalu; orang-orang diluar Islam bahkan memperkirakannya hanya beberapa ribu tahun lalu – tetapi ini tidak mungkin menurut Islam karena yang jelas didalam Alqur’an dijelaskan bahwa Nabi Nuh berdakwah 950 tahun sebelum akhirnya berdoa kepada Allah untuk dimusnahkannya kaumnya yang tidak mendengar seruannya. Manusia yang umurnya mencapai hamper seribu tahun tidak hidup di jaman akhir-akhir ini termasuk jamannya mesir kuno sekitar 4000 tahun lalu. Pada jaman mesir kuno usia manusia sudah tidak jauh beda dengan usia kita sekarang – lihat mumi-mumi Fir’aun.

Bagi Islam kapan umat Nabi Nuh dimusnahkan bukanlah hal yang penting, yang terpenting adalah bagaimana kita bias mengambil pelajaran dari setiap kejadian pemusnahan tersebut.

Benang merah setiap umat yang dimusnahkan adalah karena keingkaran mereka atas keesaan Allah, penolakan mereka atas perintah Allah atau atas kesombongan mereka. Sebaliknya mereka yang diselamatkan adalah mereka yang mengesakan Allah, mematuhi perintah-perintahnya dan menjauhi larangan-larangannya.

Benang merah ini disarikan oleh Nabi Nuh dalam pesan kepada anak ketutrunannya menjelang ajal beliau, yaitu diperintahkan anak keturunannya untuk melaksanakan dua hal dan menjauhi dua hal.

Dua hal yang diperintahkan adalah pertama untuk menegakkan tauhid tidak ada Tuhan selain Allah, dan yang kedua adalah apabila tujuh lapis bumi dan tujuh lapis langit (surga) ditimbang di satu sisi dan disisi yang lain kalimat Tidak Ada Tuhan Selain Allah maka yang terakhir ini akan tetap lebih berat.

Dua hal yang dilarang atau diminta jauhi adalah pertama mensekutukan Allah dan yang kedua berbuat/bersikap sombong.

Lantas apa relevansinya cerita kemusnahan umat Nabi Nuh dengan Lebah di judul tulisan ini ? relevansinya adalah kemiripan misi yang dibawanya.

Bukti-bukti ilmiah dari fosil-fosil di jaman mesoZoic ternyata lebah dari sub family trigona seperti yang ada sekarang telah pula ada di jaman itu.



Lalu pertanyaannya adalah makhluk lain yang perkasa di jaman itu dimusnahkan oleh Allah tetapi lebah termasuk yang diselamatkan – misi apa yang dibawanya ?.

Misi lebah ini ternyata dijelaskan Allah sekitar 65 juta tahun kemudian yaitu melalui Al Qur’an surat An Nahl 68 – 69 berikut :

Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia". Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.

Dari dua ayat tersebut jelas bahwa misi lebah dibumi adalah untuk mendampingi umat manusia dan menyediakan obat untuk manusia. Bahkan dari kalimat “….dan temnpat-tempat yang dibikin manusia” kita juga bias mengerti bahwa lebah adalah satu-satunya binatang yang didalam Al Qur’an sudah disebutkan untuk bekerja sama dengan manusia.

Mungkin agak sulit bagi kita untuk memahami mengapa misi menyediakan obat bagi manusia ini begitu pentingnya – sehingga lebahpun diselamatkan ketika terjadi pemusnahan makhluk-makhluk perkasa dijamannya. Tetapi misi tersebut menjadi lebih mudah kita pahami akahir-akhir ini khususnya bagi kita yang hidup di Indonesia.

Kemusrikan paling mudah menyerang umat Islam di Indonesia pada saat dia atau keluarganya menderita sakit, dengan mudah mereka mengambil jalan pintas ke perbagai pengobatan alternative – padahal berbagai pengobatan alternative yang ada sebagiannya mengandung kemusrikan. Disinilah pentingnya kita dalam memilih pengobatan (atau apapun masalah kita) untuk menggunakan tuntunan yang ada di Al –Qur-an dan Al Hadits. Dalam pengobatan contohnya yaitu Allah sendiri yang telah mengabarkan ke kita obat tersebut di dalam Al Quran lewat dua ayat tersebut diatas.

Bahkan ketika ada keraguan di hati kita, uswatun hasanah kita Rasulullah s.a.w. telah memberi contohnya bagaimana mengatasi keraguan tersebut dengan bersabda….”….Apa yang dari Allah pasti benarnya sedangkan perut saudaramu bisa berbohong”.

Jadi jelas bagi kita bahkan lebahpun punya misi mengesakan Allah, sama seperti misi utusan-utasan Allah yang diselamatkan seperti Nabi Nuh, Nabi Luth dan nabi Sholeh. (IQ)
SUMBER:
http://safamedical.com/list.asp?c=25&j=3

Senin, 05 Mei 2008

Lebah, Penyengat yang Menyembuhkan


Lebah adalah serangga luar biasa. Sengatan dan produk turunannya membantu mengatasi berbagai penyakit, dari alergi hingga gangguan saraf, dan meningkatkan daya tahan. Pengobatan dengan lebah dan produknya disebut apiterapi.

Disebutkan dalam Alquran surat An Nahl ayat 68-69, di dalam madu lebah terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Produk turunan yang dihasilkan lebah ada 13 buah, di antaranya madu, propolis, royal jelly, pollen, bee venom, lilin lebah, madu sarang, roti lebah, larva lebah, dan phedra.

Kata aphitherapy (apiterapi) adalah perpaduan bahasa Latin, aphis berarti lebah dan therapy, pengobatan. Apiterapi didefinisikan sebagai upaya pengobatan komplementer untuk tujuan prefentif, kuratif, dan rehabilitasi menggunakan lebah dan produk turunannya.

Penggunaan madu lebah untuk kesehatan, kata Dr. Adji Suranto, Sp.A, dari Perhimpunan Dokter Indonesia Pengembang Kesehatan Tradisional Timur (PDPKT) DKI Jakarta, telah diketahui sejak ribuan tahun lalu. Lukisan karang zaman batu (6000 SM) memperlihatkan kegiatan honey hunting. Bukti tertua penggunaan madu untuk mengobati infeksi kulit dan luka, borok, penyakit mata dan telinga, tertulis dalam keramik bangsa Samaria (2000 SM).

The Ebers Papyrus (1550 SM) mencatat resep-resep madu untuk pemakaian luar, yaitu untuk terapi kebotakan, luka bakar, abses, dan pereda nyeri. Madu juga dimanfaatkan untuk menyembuhkan luka usai pembedahan, termasuk sunat, supositoria, mengurangi peradangan, serta meredakan kaku sendi.

Hingga tahun 1990, katun yang direndam dalam jus lemon dan madu masih digunakan sebagai alat kontrasepsi. Penggunaan sengat lebah untuk terapi nyeri sendi dan artritis telah lama dilakukan oleh bangsa Yunani. Pelopornya adalah bapak kedokteran modern, Hippocrates. Tahun 1888, Dr. Philip Tere dari Perancis meneliti hubungan antara sengat lebah dan rematik.

Apipuntur

Sebelumnya, tahun 1864, Prof. Libowsky melaporkan kesembuhan pasiennya yang menderita rematik dan neuralgia setelah diterapi dengan sengatan lebah. Pengobatan menggunakan sengat (bisa) lebah dikenal sebagai apipuntur. Apipuntur, kata Dr. Adji, adalah bagian dari apiterapi. Apipuntur memanfaatkan bee venom dan metode akupuntur. Lebah untuk terapi ini jenis Apis mellifera dan Apis cerana.

Apipuntur sendiri merupakan bagian dari apiterapi. Sengat atau racun lebah sangat baik untuk menormalkan segala aktivitas pembuluh darah dan saraf. “Hasil penelitian menunjukkan bahwa sengat lebah mengandung melitin, apamin, peptida 401 (MDC), inhibitor protease, dan norepinephrine,” kata dokter yang mendalami pengobatan komplementer sejak tahun 1999 ini.

Apiterapi secara umum dimanfaatkan untuk meredakan gangguan rematik, masuk angin, flu, salah urat, hingga penyakit berat, seperti darah tinggi, diabetes, dan kanker. Cara ini pun diklaim efektif untuk mengobati penyakit degeneratif, seperti stroke. Dalam praktik apipuntur, dituturkan Dr. Adji, sengat lebah yang dimasukkan ke dalam tubuh dilakukan dengan dua cara, yakni langsung (direct bee sting) dan lewat suntikan berisi racun lebah.

“Racun lebah diambil dari antibodi murni seseorang yang sudah sering disengat lebah,” katanya. Jumlah sengatan tergantung pada jenis penyakit. Namun, satu sengatan di titik-titik tertentu dianggap cukup sebagai perkenalan. “Dalam terapi berikutnya, titik-titik tersebut disengat lagi, tetapi tidak boleh lebih dari 10 sengatan,” ujar pria satu anak ini.

Sengatan lebah yang sedang bereaksi di tubuh ditandai dengan ketidaknormalan sejenak yang sifatnya individual. Reaksi pasien berbeda-beda, apakah sebelumnya pernah disengat lebah atau tidak. Biasanya pasien akan mengalami reaksi lokal dan sistemik. Ciri reaksi lokal adalah pembengkakan di sekitar lokasi sengatan, gejala klinisnya gatal, nyeri, dan kaku. Reaksi sistemik berupa demam, lemas, telinga berdengung, dan pusing.

Menurut Dr. Adji, bila reaksi itu terjadi pada pasien yang sensitif, diganti dengan pemberian obat antihistamin selama 10 hari. Selanjutnya baru boleh dilakukan apiterapi lagi. Kondisi di atas, kata dokter lulusan FKUI 1988 ini, adalah alamiah karena racun lebah sedang bereaksi di dalam tubuh. Seperti saat kita diimunisasi.

Untuk menetralkan kondisi tersebut, ia menganjurkan konsumsi madu dan mengoleskan minyak gosok di bagian yang bengkak dan gatal. Karena itu, terapi sengat lebah akan lebih efektif bila dikombinasikan dengan pemberian madu, propolis, pollen, atau royal jelly.

Meski dikombinasi, tidak semua jenis penyakit bisa disembuhkan dengan terapi yang sama. Contohnya, untuk kencing manis, terapi tambahan yang digunakan adalah pollen dan propolis. Untuk gangguan katarak, selain sengat lebah, terapinya berupa tetes mata madu trigona dan madu lebah. Untuk gangguan rematik, ada dua titik yang disengat, yakni titik lokal di mana yang sakit dan titik sistemik, yaitu titik akupuntur zusanli (daerah bercekung di bawah lutut).

Selain sengatan di titik itu ditambah konsumsi royal jelly, propolis, dan citosan. Terapi apipuntur dilakukan dalam 12 kali pertemuan. “Biasanya pada kunjungan pertama titik yang disengat hanya satu. Hari berikutnya ditambah satu titik sengatan lagi. Begitu seterusnya. Lamanya sengatan antara 10-15 menit. Setelah itu bisa diulang lagi,” katanya.

Pemanfaatan apipuntur, tambah Dr. Adji, ditentukan oleh jenis penyakit, umur pasien, dan kontraindikasinya. Wanita hamil, bayi, anak-anak, dan orang lanjut usia dianjurkan tidak menjalani terapi ini.

Author : Hendra Priantono

Source : Gaya Hidup Sehat

SUMBER: http://kompas.com/index.php/read/xml/2008/02/25/23553739/lebah.penyengat.yang.menyembuhkan

PAKET POS ( Promosi Online Semesta )

JENIS OBAT SUNNAH